Membangun Bisnis jangka panjang bisa asal mau membayar PRICE-nya.

Seorang pengusaha tengah berdiri di tepi pantai dan memandang ke arah laut, ketika seorang nelayan merapatkan perahunya.

“Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk menangkap ikan sebanyak ini?” tanya pengusaha kepada nelayan.

“Tidak lama, cukup 5 jam,” jawab nelayan.

“Mengapa tidak pergi lebih lama dan menangkap lebih banyak lagi ?”

“Ini sudah cukup buat keluargaku.”

“Apa yang anda lakukan di luar menangkap ikan?”

“Bermain dengan anak-anakku, tidur siang, makan siang bersama keluargaku, berjalan-jalan di desa, bermain gitar, ngobrol dengan teman-temanku – hidup yang begitu kunikmati.”

“Aku punya ide untuk membantumu,” ujar si pengusaha.

“Aku lulusan master dari Harvard. Saranku, habiskan waktu lebih banyak untuk menangkap ikan, beli perahu yang lebih besar, dapat lebih banyak uang, beli lagi beberapa perahu.”

Jangan jual ikan ke perantara, jual langsung ke pengolahan sampai anda memiliki pabrik sendiri.

“Kendalikan produk, distribusi, dan produksinya.”

“Setelah itu anda pindah ke kota besar, kemudian ke luar negeri untuk mengembangkan usaha ini.”

“Menarik. Tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan supaya aku bisa seperti itu?” tanya nelayan mulai tertarik.

“Lima belas tahun paling cepat. Dua puluh tahun paling lambat,” jawab si pengusaha.

“Setelah itu pak, Pak ?”

“Inilah bagian yang paling menarik. Anda bisa menjual saham perusahaan di bursa dan menghasilkan uang miliaran.”

“Wah, miliaran ya. Lalu apa setelah itu Pak?”

“Lalu, anda bisa istirahat dan pulang ke rumah. Pindah ke desa kecil di tepi laut, memancing, bermain dengan anak-anak, tidur siang, makan bersama istri, berjalan-jalan di desa, main gitar serta ngobrol dengan teman-teman dekat.”

Demikianlah cerita singkat antara nelayan dan pengusaha sukses.

Cerita ini sudah lama pernah saya baca, dan saya baca lagi kemarin di salah satu buku founder komunitas TDA, Bapak Badroni Yuzirman. Dan saya tertarik membahas dari sisi bisnis jangka pendek dan bisnis jangka panjang.

Baik, dari cerita singkat tadi, Anda lebih setuju diposisi sebagai apa? sebagai nelayan atau sebagai pengusaha?

Kira-kira Bisnis mana yang jangka pendek, mana yang jangka panjang? (profesi) Nelayan atau bisnis Pengusaha ?

Keduanya, pilihan antara nelayan dan pengusaha tidak ada yang salah, tapi jika si nelayan tidak hanya memikirkan diri dan keluarganya, jika nelayan yakin dengan ia mengembangkan bisnis mampu lebih bermanfaat bagi orang lain, maka saya dukung si nelayan tersebut untuk jadi pengusaha sukses.

Sebelum saya bahas lebih dalam, visi saya sebagai Business Coach adalah menjadi partner dalam mencari kesuksesan, kemakmuran, keberlimpahan, mental pemenang, melalui metodelogi coaching.

Sebagai member TDA visi saya adalah bagaimana tetap memberi, menebar rahmat bersama. artinya setiap kita di TDA harus punya mental “The Giver” (Memberi / Tangan Diatas). Anda para pembaca….Anda bisa turut/ ber TDA, boleh dan pasti mendapatkan manfaat di komunitas TDA.

Berkumpul dan kenal dengan orang-orang yang semangat berwirausaha saja sudah keuntungan langsung dari bergabung di TDA sampai akhirnya nanti dekat seperti keluarga.

Tapi menurut saya ada hal-hal yang perlu Anda pertimbangkan dan sebelum bergabung. Coba tanyakan dulu pada diri Anda sendiri, apakah Anda ingin Jenis atau type bisnis Anda bisnis jangka pendek atau jangka panjang ?

Beda kedua tipe bisnis jangka pendek dan jangka panjang ada pada manajemennya. Kalau jangka pendek mungkin tidak perlu manajemen profesional tapi bisnis jangka pendek ini berhenti pada saat pengusaha tidak ada.

Contoh tukang gorengan ; kesuksesannya adalah bagaimana bisa menggoreng produk, bisa jualan tiap hari, anak istri bisa cukup makan dan anak-anak bisa sekolah dsb. Kalau tukang gorengannya bernama Colonel Sanders?? Dari sisi bisnis bisa beda kan ya…bahkan setelah tidak ada (meninggal dunia) bisnisnya tetap ada dan menggurita.

Tipe bisnis seperti KFC dikatakan salah satu Bisnis jangka panjang. Dan bisnis jangka panjang, panjang juga caranya …ada proses tahapan pengembangan, ada manajemen profesional. Dan untuk bisnis jangka panjang memang ada PRICE-nya!

Jika Anda bersedia membayar “PRICE” nya agar Anda mampu mengembangkan bisnis jangka Panjang dan bisa diwariskan maka artikel ini cocok buat Anda. PRICE adalah singkatan yang harus dibayar oleh pengusaha menurut pengalaman saya selama membantu banyak UKM.

Apa saja itu ?

P = Protect

Protect adalah menjaga hal-hal yang perlu dijaga dalam rangka keberlangsungan usaha. Apa yang harus dijaga sebagai pengusaha?

Sebagai seorang pengusaha harus menjaga impian Anda, menjaga Value Anda. Ini penting dijaga saat berbisnis misalnya menjaga kepercayaan diri, terus semangat dalam belajar, menjaga kualitas produk/ jasa, menjaga agar omset/ income lebih besar dari biaya, lalu menjaga ibadahnya baik pribadi maupun seluruh karyawan dan keberkahan usaha agar insyaallah Allah turut menjaga usahanya

R = Re-Education

Teruslah belajar, karena setiap manusia dewasa dan berpikir pasti selalu belajar dalam setiap fase kehidupan dan pertumbuhannya baik itu edukasi formal di bangku sekolah maupun non formal di lingkungannya.

Begitu juga dengan pengusaha, seperti yang pernah dituliskan dalam buku yang mengulas inspirasi Bob Sadino, dibuku tersebut tertera bahwa pengusaha yang jago jalanan (belajar jalanan) dan juga belajar formal akan menjadi pengusaha jagoan yang professional.

Edukasi membentuk knowledge, dan knowledge membantu kesadaran dalam mengambil keputusan. Pengusaha perlu Re-Education seiring pertumbuhan diri dan bisnisnya untuk mampu melakukan keputusan-keputusan yang efektif. Bagaimana keputusan yang sudah dibuat masih terdapat kegagalan? Ya Anda akan belajar sesuatu ketika Anda terus mencoba.

Kenapa disebut Re-Edukasi ? Karena edukasi harus selalu dilakukan dimulai dari sejak lahir sampai seumur hidup. Kualitas pendidikan suatu bangsa terutama pada pengusahanya akan mempengaruhi keberadaan bangsa tersebut apakah akan maju atau mundur.

Apakah Re-Edukasi berhenti di Owner saja ? Ternyata tidak.. karyawan serta manajemen juga harus bertumbuh. Jadi Owner juga perlu balajar menjadi coach dalam bisnisnya, atau sekalian menghire seorang coach Professional.

I = Investment

Saya sudah menjelaskan tentang Re-Education, sekarang tentang Investment yang berkaitan dengan edukasi dulu ya.

Di bisnis salah satu investasi yang tidak mendesak tapi penting adalah effort dan biaya untuk belajar.

Jika diibaratkan bisnis Anda adalah kendaraan menuju tujuan Anda, maka ongkos (biaya) merupakan salah satu investasinya

Dan jika Anda serius lalu yakin akan bisnis Anda, maka Anda bisa memilih pilihan Investasinya.

Saya coba analogikan menurut saya (dengan tidak bermaksud menyudutkan apa/kegiatan apapun) sebagai berikut :

1. Ikut seminar itu seperti ke satu tujuan Naik angkot ; harus rela berdesak-desakan tapi biaya atau ongkosnya cukup terjangkau untuk ke 1 tujuan walau penumpang satu persatu sudah turun sebelum terminal, kalau mau ke tujuan lain ya harus naik Angkot lain (seminar lain).

2. Ikut Workshop itu seperti naik taxi online ; Ada Aplikasi yang membantu kita ke tujuan (modul) lalu ada driver yang membantu kita menuju tujuan kita (Trainer) tapi begitu mau ke tujuan lain ya… naik taxi online yang lain (Workshop lain)

3. Ikut Mentoring itu seperti kita diajarkan membawa mobil apakah itu keluarga kita maupun teman yang bisa bawa mobil duluan, minta diajarin secara personal tidak harus bayar, yang penting kita bisa bawa mobil.

4. Ikut Coaching itu seperti ikut kursus mobil, dimana ada coach yang melatih Anda agar bisa menyetir dan mengetahui rambu-rambu dengan baik serta pemahaman penggunaan alat saat berkendaraan.

Jika sudah lancar naik mobil ke mana-mana, mungkin bisa lebih fleksible dan kalau ada driver pribadi gak salah. Anda bisa melakukan keperluan lain yang perlu Anda lakukan sebagai pengusaha, tanpa khawatir di “akalin” supir karena kita sudah paham tentang mobil dan kalau supir gak masuk gak papa, karena Anda tetap bisa bawa mobil sendiri.

Begitu juga dalam mengembangkan bisnis, sebaiknya Anda ikut yang mana? Mau investasi belajar kemana? Investasinya beragam dan manfaatnya juga beragam tergantung kebutuhan Anda dan bisnis Anda.

Selain edukasi, IT support dan Budget marketing juga merupakan investasi penting untuk mengembangkan usaha.

C = Community

Anda juga perlu Collaboration. Collaboration bisa didapat dalam Community yang Concern yang sama dan saling terhubung (connect).

TDA sebuah komunitas pengusaha yang concern ke peningkatan kapasitas Anggota memberi kesempatan buat para seluruh Anggota untuk mendapatkan ilmu dari kuliah online, seminar, workshop, mentoring untuk meningkatkan kapasitas usaha Anggota.

E = Environment

Environment adalah lingkungan yang terdiri dari area internal dan eksternal. Environment ini penting sekali dimana menentukan bagi pengusaha dan usahanya mampu bertumbuh.

Pada bisnis, area internal yang memengaruhinya : Man-Money-Material- Machine – Method, lalu ada area yang lebih dalam lagi bagi pengusaha yaitu keluarga.

Area eksternal Mikro & Makro. faktor – faktor yang mempengaruhi di lingkungan Mikro : Pemerintah, Pemegang saham (shareholders), Kreditor, Pesaing, Publik, Perantara, Pemasok, Konsumen. Sedangkan di lingkungan Makro, faktor – faktor yang mempengaruhi : Lingkungan sosial kultur, Lingkungan ekonomi, Lingkungan teknologi, Lingkungan politik-hukum (pemerintahan, Lingkungan global, Lingkungan bisnis, Teknologi dan informasi.

Jika area eksternal pada lingkungan global seperti krisis moneter krisis global terjadi, maka perlu Anda pahami bahwa hal hal pada area internal-lah yang bisa dikontrol dengan baik oleh Anda pengusaha sehingga area eksternal atau bisnis Anda cepat atau lambat akan menyesuaikan.

Jadi sekali lagi jika Anda sebagai pengusaha bersedia membayar “PRICE” nya untuk mengembangkan bisnis jangka panjang serta semua usaha terbaik Anda sudah dilakukan dan Allah Ridho Insyallah Anda sukses.

Anda membutuhkan partner (Coach), silahkan hubungi saya coach Ihsan sebagai coach Anda dalam membangun bisnis Anda jangka panjang .WA 081377226033

Advertisements
Standard

Pengusaha Bunuh Diri

Apakah Anda siap?

Semangat pagi !!! Saya ingin share pengalaman saya saat diundang untuk melatih calon purnabakti di salah satu instansi.

Setelah acara pembukaan yang formal, saya di panggil MC untuk mulai melakukan training (lebih tepatnya sharing) kepada 60 an pegawai negeri yang 40% nya akan menghadapi pensiun pada tahun ini. Seperti biasa saya buka dengan kata mengapa??? Mengapa Pensiunan sebaiknya berwirausaha?? Audiens senyap, gak menjawab.

Lalu saya tanya lagi ; kira-kira bagaimana yang dirasakan rata-rata seorang pensiunan? Apa yang naik….? Apa yang turun…?? Satu persatu menjawab dan jawaban mereka saya tulis di papan flipchart dengan tulisan yang cukup besar Yang naik :

1. Khawatir/ cemas

2. Penyakit

3. Biaya

Yang turun :

1. Stamina

2. Percaya diri

3. Income

Nah saya sambung dengan kembali bertanya, kenapa pensiunan sebaiknya berwirausaha? Lalu ada salah satu peserta berdiri sambil mempertanyakan setengah komplain “kok kita mau menjelang pensiunan” malah disuruh jadi pengusaha?!!” Pengusaha banyak yang mati bunuh diri!! harusnya kita disini (dalam kegiatan gathering) ini kan senang-senang!! Ya kan bapak -ibu??!! (beliau mengajak peserta lainnya untuk setuju dengan pendapatnya)

Saya kaget (tapi tetap cool 😎) , mencoba merespon dan menanggapi dengan tenang…

“pak…saya diundang ke mari (dalam gathering karyawan calon purnabakti) sama ibu…..memang untuk memberikan pelatihan/ mengenalkan kewirausahaan kepada bapak ibu semua yang hadir di sini.

Lalu, apakah bapak hanya tau pengusaha yang bunuh diri saja? Masih banyak kok diluar sana yang masih waras dan mencoba membangun bisnisnya dan dirinya dengan lebih baik, bahkan tidak sedikit yang sukses dengan seimbang (urusan dunia & urusan akhirat). Apakah bapak tidak tertarik untuk mengetahui bagaimana kiat pengusaha yang melakukan keputusan dan tindakan berdasarkan value yang efektif dalam membangun bisnis?

Bapak tersebut masih kelihatan bingung, lalu pimpinan instansi nya pun menambahkan , memberi pandangan/ gambaran ke peserta..Dan suasana tegang pun kembali normal. Bapak itu duduk kembali di tempat duduknya, saya melanjutkan tanya jawab yang hasilnya saya tahu masalah apa yang sedang terjadi pada bapak itu sehingga beliau merasakan gelisah/ cemas, dan mencari kesenangan di kegiatan gathering tersebut.

Saya pun melanjutkan training sampai selesai. Pimpinan dan sebagian besar audiens cukup puas dan mendapatkan sesuatu agar siap berwirausaha setelah maupun menjelang purnabakti.

Dan sebelum saya pulang, Bapak yang komplain tadi menjumpai saya dan sempatkan minta maaf atas perilakunya di ruangan tadi.

Bapak/Ibu para pengunjung blog ini, tahukah Anda bahwa memang tidak sedikit pengusaha yang mati bunuh diri, (bisa cek di google) Tapi pertanyaan saya, mengapa sampai segitunya? Tahukah Anda, dalam bisnis bahwa gagal itu sesuatu yang pasti ? Tidak pernah terbesit bahwa ada kemungkinan gagal.

Dan ketika gagal, mereka kaget ,kecewa dengan sangat mendalam. Iman tidak kuat dan melakukan tindakan yang di luar akal sehat.

Yang jadi pertanyaan kembali ; apa yang Bapak/ Ibu siapkan untuk meminimalkan atau bahkan menghindari kegagalan?

Kalau Anda mencoba cara-cara lama dibanding dilatih oleh seorang coach Professional? Apakah hasilnya akan sama?

Sekian dulu… ☺

Semangat pagi✊

Standard

Rumah “Perubahan” tidak hanya ada di Bekasi

Sebuah kegiatan yang sederhana tapi penuh pembelajaran dimulai dari NIAT, HARAPAN dan BERANI (take Action).

Berawal dari chat ringan ke saya via WA oleh Ibu Fitri, pemilik lembaga belajar masyarakat bernama Rumah Hijau di Jl. P. Siantar no 220 Lubuk Pakam (dekat pintu tol Pakam).

Bu Fitri :
Saya pengen ngundang coach Ihsan untuk sharing sehingga warga belajar saya termotivasi dan mampu merubah pola pikir mereka untuk berani menjadi wirausaha pada program PKW (Pendidikan Kecakapan Wirausaha) yang diselenggarakan di Rumah Hijau

Coach Ihsan :
Boleh bu, tapi boleh tau apa alasan bu Fitri?

Bu Fitri :
Sejak ikut ortek (Orientasi Teknis) PKW di Jakarta, timbul NIAT saya bahwa saya harus bisa MEMAJUKAN WARGA BELAJAR Rumah Hijau. Inilah yang menjadi alasan utama saya coach.

Coach Ihsan :

Baik, lalu apa tujuan dan harapan bu Fitri?

Bu Fitri :

HARAPAN saya,. mereka, para warga belajar bisa merubah pola fikir mereka, BERSEMANGAT UNTUK BERWIRAUSAHA melalui bekal keterampilan yg didapat dr Rumah Hijau.

Coach Ihsan :
Baik bu, karena ibu clear akan alasan dan tujuan ibu, kalau ibu komit maka saya akan sediakan waktu saya.

Dan…singkat cerita setelah menentukan hari dan tanggal pelaksanaan, beberapa hari sebelum hari H, saya mengalami kecelakaan. Kaki kanan saya cidera dan belum biaa dipakai buat berjalan, namun semangat beliau dan warga belajar membuat saya yakin kalau Allah akan memudahkan rencana bu Fitri.

Saya berangkat dari Medan ke Lubuk Pakam ditemani istri dan anak saya K 🙂 bahkan saya tawarkan ke istri saya waktu untuk sharing dan bawa sebagian materi saya, alhamdulillah beliau bersedia.

Dan siang itu di hari H sampailah kami di Rumah Hijau. Sekilas saat memasuki Rumah hijau mengingatkan saya pada Rumah Perubahan milik Prof Rhenald Kasali yang berada di Bekasi.

Setelah 2 jam memberikan sharing, 80% dari 20 warga belajar yang hadir, antusias dan termotivasi ingin menjadi Wirausaha.

Saya dan istri sangat terkesan, terimakasih bu Fitri sudah BERANI dan beri yang TERBAIK untuk semua.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, bu Fitri luar biasa. Beliau mengambil tanggung jawab pribadi dan tidak menunggu untuk TAKE ACTION, berawal dari NIAT MEMAJUKAN WARGA BELAJAR dengan HARAPAN agar warga belajar semangat menjadi pengusaha.

Sukses dimulai dari berfikir – tindakan yang tepat, Komitmen dan Konsisten lalu melakukan kebiasaan yang efektif. Alhamdulillah ternyata Allah memudahkan.

Apapun pencapaian sukses yang positif akan memberikan dampak positif. Karena bu Fitri komit, maka beliau saya kasih free Business Diag senilai 5 juta untuk bu Fitri pemilik Rumah Hijau.

Semoga kebiasaan positif seperti yang bu Fitri lakukan dapat menginspirasi kita semua. Silahkan kontak saya ke 081377226033 untuk mengundang pada kegiatan pelatihan kewirausahaan di kota Anda.

Standard

“7 Alasan mengapa  Business Owner perlu memiliki Seorang Coach?”

Setiap manusia adalah mahluk sosial, apakah hubungan dalam konteks spritual, keluarga, komunitas, dan bisnis.

Dalam konteks bisnis, bahwa seseorang dapat dikatakan pebisnis apabila ia memiliki sistem dan orang lain untuk memberikan keuntungan.

Orang lain disini adalah leverage dalam mengembangkan bisnis. Terdapat 3 leverage yaitu ; 1) Waktu orang lain (other people time), 2) Uang orang lain (other people money) dan 3) Jaringan atau relasi orang lain (other people Network)

Waktu orang lain adalah orang-orang yang meluangkan waktu mereka untuk ikut serta dalam mengembangkan bisnis Anda baik itu internal maupum dari pihak eksternal bisnis.

Dari internal contohnya karyawan mulai dari level staf sampai manager, executive leader baik itu profesional ataupun keluarga Anda (jika Anda membangun bisnis keluarga).

Sementara dari pihak eksternal ada bisnis yang memberikan jasa baik itu ilmu, pengalaman dan waktu mereka kepada Anda sebagai konsultan seperti konsultan hukum, konsultan Marketing, konsultan pajak, konsultan IT, Arsitek, konsultan ISO, sampai konsultan Franchise dsb.

Dan ada juga jasa profesional lain yang penting untuk Anda miliki dalam bisnis Anda yaitu seorang Business Coach. Namun Coach sangat berbeda dengan konsultan.

Di Indonesia termasuk juga di Sumatera sendiri, seorang Business Coach sudah mulai familiar terdengar dikalangan pebisnis.

Business coach, diperlukan bagi Business owner atau pebisnis yang ingin bertumbuh baik di bisnis maupun pribadi, bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan efektif dalam proses sukses mereka para pebisnis yang memiliki growth mindset.

Seperti yang diketahui ada pebisnis yang memiliki fix mindset ada mindset yang memiliki growth mindset, yaitu pebisnis yang selalu ingin lebih baik dalam menghadapi setiap tantangan dalam bisnis dan kehidupan mereka. Mereka membutuhkan seorang partner, yang netral dan menjaga agar pengusaha tetap berada di jalur sukses sesuai yang telah ditetapkan oleh pebisnis itu sendiri.

menurut Coach Margetty Herwin, Berikut dibawah ini saya share 7 Alasan mengapa Business Owner memerlukan Business Coaching :

1. Membantu Pebisnis menggali Potensi dan kemampuan yang mereka tidak disadari.

Terkadang kita mempunyai kemampuan dan keahlian yang tidak kita kembangkan dan maksimalkan untuk dapat berguna bagi diri kita maupun orang di sekitar kita. Hal ini dikarenakan kita tidak yakin dan tidak merasa mampu untuk menggunakannya. Seorang coach akan menggali, bertanya dan menumbuhkan rasa keyakinan tersebut kepada personal ataupun group yang dicoaching, agar mampu untuk melakukan dan mengukur apa yang dilakukannya dibandingkan dengan hasil yang diperoleh.

2. Membantu peningkatan Performance Business Owner dan Team dengan menciptakan Kondisi baru yang berbeda di lingkungan mereka.

Setiap orang di dalam perusahaan pasti memiliki Performance kerja yang mereka gunakan dalam mengerjakan setiap pekerjaannya. Namun ketika kita bertanya “Bagaimana mengukur performance tersebut?” beberapa menjawab, performance diukur berdasarkan hasil yang didapat sesuai dengan target…

Bagaimana jika kita tidak melihat hasilnya? Apa yang perlu kita lakukan untuk memperbaiki kinerjanya? Tentunya jika tidak mengetahui bagian-bagian mana yang perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan, maka kita akan mengajari mereka secara keseluruhan dari pekerjaannya lagi. Membuang waktu bukan? Tetapi jika kita sangat paham bagian mana yang kurang dan bagian mana yang sudah baik, maka akan sangat membantu untuk penanganan yang lebih detil dalam tujuan peningkatan Performance bagi karyawan tersebut.

Seorang Coach akan menciptakan suatu kondisi kerja yang baru yang bersifat membangun dengan menghilangkan pola-pola lama di lingkungan kerja yang menghambat. Tentu yang diubah termasuk pola dari kebiasaan di dalam menjalankan bisnis, system kerja, dan pola kerja dari karyawannya.

Perubahan didasari dari kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan tersebut, dan seorang coach akan memfasilitasinya, agar semua personal dari perusahaan tersebut menyadari pentingnya perubahan dan merasa perlu untuk melakukan perubahan. Perubahan tersebut termasuk business owner dan semua orang yang berada di lingkup internal perusahaan.

3. Menciptakan Kesadaran Pebisnis dan Team terhadap Prioritas yang dilakukan di bisnis

Seorang Coach akan membantu pebisnis untuk dapat menentukan Prioritas yang penting bagi bisnisnya saat ini, yang mereka harus lakukan secara bertahap, sampai dengan tujuan atau target mereka tercapai. Coach akan membantu dan memfasilitasi pembuatan Business Plan ke depan yang akan dibagi menjadi perencanaan yang membuat semua “key person” dari perusahaan terlibat untuk mengetahui apa tanggung jawab dan target mereka, sehingga secara bersama dapat menetapkan ukuran dan standar kerja.

4. Membantu menselaraskan Vision, Mision, dan Value antara Owner, Leaders dan Employee yang ada di Perusahaan.

Coach akan memfasilitasi semua personal di perusahaan untuk menselaraskan Visi, Misi dan Value, karena dengan keselarasan dari hal tersebut akan mempermudah pencapaian tujuan perusahaan. Proses yang dilakukan adalah “Value Alignment”.
Proses ini meliputi menghilangkan Negatif Emotion dan Limiting Decision, Value Elicit, serta membentuk Value Hierarchy baru yang ditentukan dan disepakati oleh perusahaan. Training ini juga akan membahas efisiensi pengelolaan biaya, serta bagaimana meningkatkan produktifitas yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan profit margin bagi perusahaan.
Semua personal kunci di perusahaan yang terlibat dalam pencapaian target perusahaan harus membuat suatu ukuran yang disepakati secara bersama untuk dijalankan.

5.Mefasilitasi pengintegrasian pembuatan GOALS, PLAN, SOP dan KPI yang diperlukan untuk mencapai Visi perusahaan

Setelah melakukan Value Alignment yang menghasilkan Goals, Plan, SOP dan KPI perusahaan, seorang coach akan membantu dan memfasilitasi agar semua yang telah disepakati bersama terintegrasi dan selalu dalam track yang benar dalam upaya pencapaian visi perusahaan.

6. Membantu menghilangkan Negative Emotions dan Limiting Decision yang menghambat proses pekerjaan dalam mencapai Target perusahaan

Ini adalah hal penting yang dibahas di atas yang termasuk pada bagian Value Alignment di corporate training. Pada intinya teknik untuk menghilangkan Negatif Emotion dan Limiting Decision adalah Time Line Therapy. Kenapa hal ini jadi penting? Karena seseorang yang masih memiliki Negatif Emotion dan Limiting Decision akan sulit untuk menjalankan strategi yang telah ditetapkan, karena banyak pemikiran di masa lalu yang menghambatnya di masa sekarang untuk mencapai tujuan. Beberapa Coaching Firm yang ada sedikit sekali yang menggunakan metode ini, padahal ini adalah hal penting yang akan membuat seseorang keluar dari batasan dirinya untuk mencapai apapun yang mereka ingin capai dalam kehidupannya.

7. Membuat Pebisnis Accountability terhadap implementasi dari setiap planning yang telah disepakati untuk dijalankan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Hal ini yang kadang sulit, karena musuh terbesar kita dalam melakukan suatu implementasi dari perencanaan yang kita buat adalah diri kita sendiri. Coach akan membuat Anda untuk Accountability terhadap setiap perencanaan Anda yang ingin diimplementasikan.
Karena Accountability dari diri Anda akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang Anda capai…..!

7 Manfaat dari Program Business Coaching yang dikuti oleh Pebisnis:

Manfaat 1:
Business Owner Menyadari Potensi dan Kemampuan yang dimiliki

Pebisnis harus keluar dari zona nyamannyaPebinis harus memiliki tujuan yang lebih besar lagi dari apa yang selama ini diyakiniPebisnis dapat menggunakan potensi yang selama ini tidak digunakan secara maksimal untuk mencapai mimpi yang lebih besar.Semakin Banyak yang Anda tahu justru semakin Banyak yang Anda tidak ketahui

Manfaat 2:
Business Owner dapat Meningkatan Performance dengan melakukan perubahan Kondisi sekitar

Pola yang sama akan menghasilkan hal yang sama pulaPebisnis di coaching untuk dapat menganalisa sumber penghambat peningkatan performancePebisnis diarahkan agar dapat membuat kesepakatan dengan seluruh Team dalam perusahaan untuk berada dalam kondisi Performance yang baik yang mendukung pencapaian Target perusahaan

Manfaat 3:
Business Owner sadar akan Kebutuhan dan Prioritas

Apa yang penting di dalam perusahaan saat ini?Buat tahapan Prioritas dari Goal Perusahaan 3, 5, 10 tahun ke depanMengerti kebutuhan dari Customers

Manfaat 4:
Business Owner memiliki Keselarasan Vision, Mission, and Culture dengan Value Alignment

Semua Leaders dan Team menyadari Tujuan yang ingin dicapai oleh PerusahaanMembangun budaya perusahaan untuk menciptakan fondasi yang kuat dalam pencapaian tujuanSemua ide dan pemikiran dari seluruh Anggota Team terakomodasiMenimbulkan perasaan kebersamaan dan saling menghargai bagi seluruh Anggota TeamMembuat kesepakatan implementasi Budaya Perusahaan di setiap lini kerja di perusahaan

Manfaat 5:
Business Owner memiliki Goals, Plan, SOP dan KPI yang jelas dan terukur

Menetapkan apa tahapan Goals yang akan dicapaiMembuat Perencanaan yang terukur dan dapat diimplementasi secara bertahapMembuat SOP untuk setiap bagian lini kerja sehingga memiliki standard kerja yang dapat diukurMemiki KPI untuk mengukur Kinerja Personal yang melakukan Proses

Manfaat 6:
Coach dapat membantu mengurangi Negatif Emotions dan Limiting Decision yang ada

Kurangi dampak dari 5 Negatif Emotion (Anger, Sadness, Fear, Hurt, and Guilt)Limiting Decision, suatu keputusan yang secara tidak sadar dapat menghambat proses kerja yang dilakukan.Jika effect dari hal di atas dapat dikurangi dampaknya, maka Plan yang dibuat dapat dengan mudah untuk diimplementasikan.

Manfaat 7:
Membuat Owners, Leaders, dan Team Accountability

Accountability untuk implementasi Planning yang dibuatMenjamin untuk tetap on Track dan Fokus dalam pencapaian hasilHasil adalah Tanggung Jawab bersama dari setiap Anggota Perusahaan untuk mencapainya

Great Success

Jangan tunggu bisnis Anda DOWN segera cari coach pendamping untuk tumbuh sukses luar biasa!!

“SEKARANG SAATNYA ANDA UTK MENGHUBUNGI BUSINESS COACH AGAR BISNIS ANDA DPT DIBANTU”

Hubungi WA Coach Ihsan: 081377226033

Standard

Selamat Berlomba!

Sukses adalah persiapan bertemu dengan peluang (coach Ihsan).

Seperti yang mungkin kita lihat disekitar kita, bahwa begitu banyak orang yang hanya asal melakukan aktifitasnya sehari-hari bahkan mungkin ada yang tidak  mau melakukan apapun untuk perubahan dramatis dalam kehidupannya.

Kehidupan adalah ibarat kepesertaan dalam suatu perlombaan bagi yang ingin menang atau sukses di garis finish.

Namun jika dibandingkan dengan peserta lomba, kita sama sama mengetahui lebih banyak yang memilih membayar tiket hanya untuk duduk di stadion menjadi penonton.

Itulah hidup, kata orang bijak hidup adalah pilihan, maka yang memilih untuk sukses haruslah bermental pemenang. Dan mental pemenang melakukan apapun (yang harus & benar untuk dilakukan) agar memenangkan perlombaan atau sukses di garis Finish.

Selamat berlomba…

Salam pemenang!

Standard

Training for Mentors 8 workshop series.

Alhamdulillah, kemarin sudah selesai upgrading skill untuk bersama menebar rahmat di TDA dengan ikut serta jadi peserta TFM (Training for Mentors) 8WS di Hotel Aston Bandar lampung.

Di TFM (Training for Mentors) 8 WS komunitas pengusaha TDA selama 2 hari mulai tanggal 4-5 kemarin seru! Selain latihan public speaking, bagaimana mengatur manajemen waktu dan praktek membawakan materi 8WS, peserta saling membantu memberikan feedback ditambah masukan yang membangun dari Dir Yusuf Erlangga, Dir Epik Cak Danton, 

Insyallah setelah TFM semua peserta siap menjadi mentor yang mampu mendeliver materi 8WS berbasis pada modul 8WS dilengkapi dengan sharing pengalaman/ penerapan dari teori dalam bisnis yang dijalankan.

Namun menggabungkan kedua metode Coaching & Mentoring bahkan Training (jika Audiens membutuhkan ketrampilan khusus) dalam satu waktu sesuai kebutuhan audiens 8WS juga bisa effektif dalam pengembangan pribadi dan bisnis Audiens baik itu member TDA se Indonesia atau dari peserta umum yang juga ingin menjadi peserta workshop 8WS.

Bagaimana mengetahui kebutuhan Audiens para peserta workshop 8WS di awal sesi?  Para mentor bisa menggunakan salah satu metode Coaching dengan Active Listening, kata Mentor senior TDA, Pak Ananto.

Terimakasih atas masukan, inspirasi dan kebersamaan selama training bersama keluarga di TDA selama event TFM, terutama Ketua Wilayah B lampung Mas Eko Desri, bang Zaky, Pak Gess dan semua teman- teman TDA Lampung…semoga tetap mampu bersama menebar rahmat… Aamiin

Standard

RAHASIA BAGAIMANA MEMBANGUN BUSINESS AUTO PILOT! (Bag.1)

Emang Anda yakin bisa men-setup bisnis Anda berjalan secara “autopilot”??

Bisnis yang “autopilot” memang impian sebagian besar pebisnis. Tetapi betapa banyak pebisnis yang  saat ini secara sadar ataupun tidak, mereka terjebak di dalam bisnis yang sedang mereka bangun. Mereka diatur oleh bisnis mereka, bukan  mereka yang mengatur bisnis.
So..mungkin Anda bertanya bisa gak, Anda memiliki bisnis yang berjalan “autopilot”?

Nah…ternyata mudah jika tahu cara dan kiat-kiatnya. Anda bisa mulai dari gagasan dan mindset baru. Salah satu rahasinya akan saya share di artikel ini. Dan sebelum Anda menyadari rahasianya, saya ingin menanyakan satu pertanyaan yang membedakan antara business manager dan business owner.

Pertanyaannya Adalah ; sebagai business owner di level UKM yang mau Scaling Up,

Anda, atau karyawan Andakah yang harusnya jadi leader?

31402eb5-bbce-425d-b053-2dd7093f5c99

Jika kita lihat dalam cashflow quadrant oleh Robert T Kiyosaki bahwa, sebagai business owner, maka Anda seharusnya memiliki sistem dan orang-orang dalam mendapatkan income.

Cashflow-Quadrant-e1425219291524

Karena orang-orang yang berada dalam bisnis Anda bertambah sesuai dengan pertumbuhan bisnis Anda maka harus ada yang memimpin.

Dan jika Anda ingin bisnis Anda berjalan secara “auto pilot” maka sebaiknya adalah, bukan Anda yang jadi pemimpin namun karyawan Andalah yang harusnya jadi Pemimpin. Lha…kalau karyawan sebagai pemimpin, lalu tugas Business owner apa donk?

Tugas utama seorang pemilik bisnis skala kecil, menengah adalah melakukan keputusan-keputusan efektif dalam bisnis, sekaligus menjadi coach dalam bisnis yang mampu menciptakan leader agar bisa terus mengembangkan bisnis mencapai Visi & Goals Anda dan bisnis Anda.

Maksud saya, tidak seperti yang diulas pada sebuah blog https://www.proposify.biz/blog/leadership bahwa pemilik bisnis berbeda dengan “pemimpin di bisnis”, dalam blog tersebut dinyatakan pemilik bisnis adalah seseorang tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di bisnis. maksud saya bukan seperti itu.

Kesimpulannya bahwa sebagai business owner Anda memang harus punya leadership atau jiwa kepemimpinan. Namun untuk menciptakan dan memiliki pemimpin dalam bisnis Anda sehingga bisnis Anda berjalan Auto pilot maka Anda harus juga menjadi seorang Coach yang baik bagi karyawan Anda.

Untuk menjadi seorang Coach yang baik bagi karyawan Anda, Anda bisa menghubungi saya, coach Ihsan yang membantu Anda menjadi seorang coach internal yang baik bagi karyawan Anda.

Selamat berlomba

Salam juara.

Standard